Tinggalkan komentar

Seharusnya Bisa Jadi Pahlawan (Bangsa Indonesia)

Oleh S.P. Tumanggor

Tahun 2010 menutup usia dua pria yang seharusnya bisa jadi pahlawan bangsa Indonesia. Saya katakan “seharusnya bisa” sebab pilihan hidup telah membawa mereka ke jalan yang lain, meski tanpa meniadakan ketokohan mereka sedikit pun.

Keduanya berasal dari kutub-kutub Indonesia, satu di barat, satu di timur. Dalam banyak hal mereka berbeda tetapi tidak sedikit pula hal yang mengungkap kesamaan mereka. Keduanya menaruh peduli besar pada tanah tumpah darah mereka, yakni daerah asal masing-masing, dan membelot dari Indonesia atas nama kepedulian itu.

Tanggal 3 Juni 2010 Teuku Hasan Muhammad di Tiro (lahir 1925) mengembuskan napasnya yang penghabisan. Dialah tokoh yang memaklumkan berdirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 1976untuk berjuang lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah 30 tahun mengasing di Swedia, ia pulang ke Aceh dan meninggal dalam atmosfer perdamaian GAM-RI.

Tanggal 12 Oktober 2010 Seth Jafet Rumkorem (lahir 1933) memejamkan mata untuk selamanya. Dialah tokoh yang tampil pada 1 Juli 1971 dan memaklumkan berdirinya Republik Papua Barat (“jilid II”), juga terlepas dari NKRI. Ia mengasing di Belanda dan meninggal di Kota Wageningen, jauh, jauh dari kampung halamannya.

Kedua tokoh itu semula terpikat oleh ide keindonesiaan. Darah penentang Belanda sama-sama menjaliri pembuluh mereka, diturunkan para pendahulu mereka. Hasan Tiro adalah cicit Teuku Cik di Tiro, pahlawan Aceh (dan “pahlawan nasional” Indonesia) yang gugur dalam tempur melawan Belanda (1891). Seth Rumkorem adalah putra Lukas Rumkorem, pejuang Merah Putih yang mendirikan Partai Indonesia Merdeka di Biak (1949).

Sewaktu muda Hasan Tiro pernah menulis bahwa sejarah Aceh “pun merupakan satu bagian yang tak terpisah dari sejarah Indonesia, dan semboyan kita ‘satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air.’” Seth Rumkorem meninggalkan pekerjaannya sebagai penata buku di kantor maskapai penerbangan Belanda, KLM, untuk bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Lantas apa yang memalingkan hati mereka dari ide Indonesia Raya? Menurut catatan-catatan riwayat, itu adalah kekecewaan dan amarah. Baik Hasan Tiro maupun Seth Rumkorem kecewa dan marah oleh berbagai kebijakan pemerintah RI, khususnya yang berkaitan dengan pelanggaran HAM di daerah asal mereka: pada masa pemberontakan DI/TII (1953 di Aceh) dan masa menjelang Pepera (1969 di Papua).

Hutan rimba Aceh dan Papua segera menerima mereka bersembunyi dan bergerilya di tengah-tengahnya. Bunyi ketak-ketuk mesin tik Hasan Tiro mengalun di belukar Aceh, selagi ia menuliskan sejarah kepahlawanan bangsa Aceh masa lampau untuk menyemangati juang GAM. Sementara itu, belukar Papua tentunya menjadi saksi mata penyusunan konsep proklamasi Republik Papua oleh Seth Rumkorem.

Bagaimana kita, putra-putri Indonesia, harus meratapi mereka? Sosok-sosok yang seharusnya bisa jadi pahlawan bangsa Indonesia tetapi malah memutuskan menentang Indonesia. Sayang beribu sayang! Tetapi duduk perkaranya memang jauh dari sederhana.

Saya tak mau naif dan lugu. Di satu pihak, pemerintah RI berhak dan harus menjaga kesatuan Indonesia. Menggebuk pemberontakan dilakukan oleh semua pemerintah di dunia, dari segala bangsa dan segala zaman. Semua pemberontak pun maklum akan hal ini.

Namun, di lain pihak, mengapa orang memberontak harus dicermati pula. Kesewenang-wenangan, ketidakadilan, atau pengingkaran ideal berbangsa harus diakui sebagai alasan yang masuk akal. Bukankah kita juga menyepak-nyepak Belanda dan Jepang lantaran mereka sewenang-wenang dan tidak adil?

Saya kira pemberontak dalam negeri harus dihadapi sebagai saudara dalam persitegangan. Kita baku gusar, bahkan baku hajar, tetapi islah (perdamaian) harus tetap dikejar. Waktu Hasan Tiro meninggal, ia telah memperoleh kembali kewargaan RI. Pemerintah RI pun menyampaikan bela sungkawa mendalam. Seth Rumkorem, karena lain jalan sejarah, tidak mendapat kesempatan seperti itu.

Pasca enam dasawarsa kemerdekaan Indonesia, baiklah kita belajar dari persitegangan yang telah atau masih terjadi. Sesuai dengan kapasitas masing-masing, baiklah para pecinta Indonesia berdoa dan berikhtiar agar tak ada lagi sosok hebat yang seharusnya bisa jadi pahlawan Indonesia tetapi malah menentang Indonesia karena kecewa dan marah.

Sumber riwayat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: