Tinggalkan komentar

Lahirnya Sang Raja Damai

Oleh Monica Ruth Nirmala

Gita sorga bergema, “Lahir Raja mulia!
Damai dan sejahtera turun dalam dunia.”
Bangsa-bangsa bangkitlah dan bersoraklah serta
Permaklumkan Kabar Baik: Lahir Kristus, T’rang ajaib!
Gita sorga bergema, “Lahir Raja mulia!”1

Nyanyian Natal dengan judul asli Hark! The Herald Angels Sing ini tentu familiar di telinga kita. Lirik karangan Charles Wesley ini mengambil latar bala tentara sorga yang memuji Allah setelah malaikat memberitahukan kelahiran Kristus kepada para gembala (Lukas 2:9-14).

Jika kita telusuri kisah ini, beberapa pertanyaan dapat diajukan. Mengapa kelahiran Raja Mulia membuat gita sorga bergema? Mengapa bangsa-bangsa perlu bangkit, bersorak, dan mempermaklumkan kabar baik kelahiran Kristus? Jawabannya kita temukan dalam pujian bala tentara sorga: karena kelahiran Kristus membawa “damai sejahtera di bumi di antara manusia” (Lukas 2:14; lihat juga baris dua lagu di atas).

Damai sejahtera yang dibawa Kristus ini persis dengan nubuatan Yesaya kira-kira 700 tahun sebelum kelahiran Mesias. Ada tertulis dalam Yesaya 9:5-6:

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. (Tekanan oleh penulis).

Yesaya menubuatkan lahirnya Sang Raja Damai! Istilah “Raja” menunjuk kepada kuasa tertinggi di suatu wilayah. Kristus merupakan Penguasa dunia ini. Kristus mendapat gelar “Raja Damai” karena kedatangan-Nya membawa damai di antara manusia di dunia milik-Nya. Yesaya menubuatkan bahwa takhta damai Kristus itu didasarkan dan dikokohkan dengan keadilan dan kebenaran.

Di sini kita mendapati bahwa Natal, momen peringatan kelahiran Raja Damai, bukanlah romantisme sekejap di tiap akhir tahun. Natal bukan sekadar momen syahdu: lagu-lagu penyejuk hati, kebaktian khusyuk di malam hari, drama palungan, atau kegiatan seremonial lainnya dalam gereja. Natal juga bukan sekadar hingar bingar tukar kado, beli baju baru, atau diskon di mal. Bahkan, Natal bukan sekadar aksi sosial tahunan yang diadakan komunitas Nasrani.

Meski hal-hal di atas tidak salah, kita perlu memaknai Natal lebih dalam sebagai awal datangnya Kerajaan Allah yang membawa damai sejahtera bagi dunia melalui kebenaran dan keadilan. Karena itu, Natal yang kini dirayakan umat Nasrani seharusnya juga membawa semangat yang sama: menghadirkan damai sejahtera melalui penegakan kebenaran dan keadilan di setiap sendi kehidupan.

Idealisme membawa damai sejahtera di segala bidang mungkin terdengar utopis bagi sebagian orang. Namun, bagi orang percaya, itu sebetulnya bukan khayalan yang mengawang-awang, melainkan panggilan. Kristus telah memulai pekerjaan ini 2000 tahun yang lalu. Kini misi menghadirkan damai sejahtera di bumi menjadi bagian kita juga, para pengikut-Nya.

Jika kita melihat bumi Indonesia, maka tuntutan membawa damai sejahtera Allah tampak begitu jelas. Setiap hari kita mendengar kabar tentang bangsa yang sakit, korup, bodoh, dan miskin. Semua sendi kehidupan bangsa ini menunggu dijamah Sang Raja Damai.

Raja Damai harus bertakhta di atas segala sendi kehidupan Indonesia. Allah memanggil kita untuk membawa damai sejahtera ke bidang yang berbeda-beda di tengah bangsa ini. Damai sejahtera perlu hadir di bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan, hukum, pertanian, teknologi, kelautan, transportasi, sains, pemerintahan, dll.

Akhir kata, momen Natal boleh saja kita rayakan hanya di akhir tahun. Tetapi semangat Natal untuk membawa damai sejahtera—melalui penegakan kebenaran dan keadilan di segala bidang kehidupan—harus kita hayati dan perjuangkan sepanjang zaman.

Biarlah hidup kita, dalam panggilan Allah, dapat memperdengarkan nyanyian ini di bumi Indonesia.

Raja Damai yang besar, Surya Hidup yang benar,
Menyembuhkan dunia di naungan sayap-Nya,
Tak memandang Diri-Nya bahkan maut dit’rima-Nya,
Lahir untuk memberi hidup baru abadi!
Gita sorga bergema, “Lahir Raja mulia!”1

Catatan

1. Charles Wesley. “Gita Sorga Bergema” (judul asli: Hark! The Herald Angels Sing) dalam Kidung Jemaat (lagu nomor 99). Jakarta: Yamuger, 1999.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: