3 Komentar

Jangan Takut Jatuh Cinta

Oleh Viona Wijaya

Ini bukan judul sinetron, melainkan suatu fenomena di kalangan anak muda Kristen. Di antara muda-mudi Kristen yang “saleh,” sindrom takut jatuh cinta rupanya sering muncul. Label “saleh” di sini diberikan kepada muda-mudi yang berusaha agar hidupnya berpadanan dengan Firman Allah. Mereka mudah ditemui di gereja, kampus, dsb lantaran aktif terlibat dalam pelayanan.

Dalam kiprah mereka melayani Allah dan manusia, muda-mudi ini berkawan satu sama lain. Dan secara alami sering tumbuh suatu perasaan khusus di hati mereka terhadap lawan jenis di antara kawan-kawan mereka itu. Jantung mereka berdetak cepat, wajah mudah memerah, lidah menjadi kelu ketika melihat si pujaan hati. “Alamak, aku jatuh cinta!” pikir mereka.

Cepat-cepat mereka datang menghadap Tuhan, pembimbing, pendeta, kawan-kawan sepelayanan, kawan komsel, dsb untuk menceritakan hal tersebut. Anehnya, sebagian dari mereka merasa begitu bersalah karena jatuh cinta kepada kawannya.

“Saya harus berfokus pada Tuhan dan pelayanan,” ungkap mereka dengan nada cemas. “Hal ini akan mengganggu konsentrasi saya.” Ada pula yang berkata, “Bagaimana kalau dia bukan orang yang Tuhan tetapkan untuk saya? Saya tak mau salah pilih!”

Mengapa banyak anak muda Nasrani “takut jatuh cinta”? Paling tidak ada dua sebab. Pertama, takut gagal, takut salah pilih dalam menjalin hubungan serius dengan lawan jenis. Ketakutan ini bisa muncul karena melihat kegagalan hubungan pasangan Nasrani lain.

Sebetulnya, “takut gagal” ini adalah pikiran yang terlalu jauh. Jatuh cinta dan menjalin hubungan serius adalah dua perkara yang berbeda. Jatuh cinta (atau jatuh hati) bisa terjadi secara alami ketika kita berkawan dekat dengan orang-orang tertentu, tapi untuk menjalin hubungan serius kita perlu menimbang matang-matang.

Daripada merasa takut, lebih baik kita belajar dari kegagalan maupun keberhasilan pasangan lain. Dari mereka, kita dapat belajar mengenai hal-hal yang harus dihindari dan disiapkan sebelum membangun hubungan serius. Pelajaran itu akan membantu kita agar tak tergelincir ketika menjajaki kemungkinan hubungan lebih jauh dengan si dia.

Hal kedua yang menyebabkan anak muda Nasrani “takut jatuh cinta” adalah pandangan bahwa jatuh cinta akan menjadi kendala dalam melayani Tuhan. Sebagian anak muda Nasrani takut kalau-kalau “mabuk cinta” akan membuat benak mereka dipenuhi oleh si dia saja, tak ada tempat lagi untuk Tuhan. Hal ini memang mungkin terjadi, namun bukan berarti tidak dapat ditanggulangi.

Hubungan dengan Allah dan saudara-saudara seiman yang sehat menjadi kunci agar kita tidak kehilangan fokus. Allah sendiri, dan seharusnya kawan-kawan kita juga, akan mengingatkan kita jika orang lain mulai menggeser kedudukan-Nya sebagai Raja atas hidup kita.

Dari paparan di atas, kita melihat bahwa respon yang benar terhadap jatuh cinta adalah hal yang sangat penting. Reaksi seperti menyangkal perasaan sendiri atau berpura-pura tidak punya perasaan apa-apa adalah keliru karena dengan demikian kita sebetulnya lari dari “pengajaran” Tuhan. Tuhan mengizinkan kita jatuh cinta (meski si dia pada akhirnya mungkin tidak menjadi pasangan hidup kita), tentu karena ingin mengajarkan sesuatu.

Sebaliknya, terburu-buru menjalin hubungan serius, tak mau melihat kekurangan-kekurangan si dia, bersikeras mengklaim si dia sebagai pasangan hidup adalah reaksi yang keliru pula.

Respon kita sebaiknya adalah mengakui bahwa kita telah jatuh cinta. Jujurlah di hadapan Tuhan. Berceritalah kepada beberapa orang yang bisa dipercaya, misalnya mentor atau kawan-kawan terdekat yang bijak dan sehat kehidupan rohaninya. Dengarlah petunjuk-Nya dan masukan dari orang-orang terdekat yang bisa dipercaya.

Sambil menjaga hati dengan segala kewaspadaan, mintalah hikmat Tuhan untuk mengetahui apakah orang tersebut pasangan hidup kita atau bukan. Dengan demikian, jerat-jerat yang dapat menjebak kita bisa dihindari.

Jadi, anak muda Nasrani, jangan takut jatuh cinta!

Iklan

3 comments on “Jangan Takut Jatuh Cinta

  1. Setuju!
    Jatuh cinta boleh, tapi ga langsung berpikir bahwa dia pasangan hidup kita. Banyak yang harus dipertimbangkan mulai dari keluarganya, keluarga kita sendiri, dll.
    Terima kasih telah berbagi, Saudara Viona!

  2. Wah tulisan yang diplomatis :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: