1 Komentar

Pulau Kelapa Berhenti Merayu di Depan Kanvas Simpang Dago

Oleh Manihar Sibuea

Kulangkahkan kaki meninggalkan tempat kos. Tas berisi kamera melingkar di badan. Hasrat mendapatkan gambar dan ide tulisan memenuhi batok kepala. Simpang Dago1 kujadikan tujuan. Dan kecewalah aku karena tak banyak hal yang kudapat.

Jalanan sepi. Liburan akhir pekan yang panjang mulai malam Jumat sudah selesai. Turis domestik sudah berpulangan ke habitatnya masing-masing. Mereka ini orang-orang yang menghabiskan uangnya dengan mudah dalam liburan di Bandung.

“Tanah airku aman dan makmur/Pulau kelapa nan amat subur/Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala.” Demikian bunyi penggalan lirik “Rayuan Pulau Kelapa” ciptaan Ismail Marzuki yang sangat terkenal itu. Kini, bertahun-tahun setelah lagu itu tercipta dan telah pula mashur sampai ke luar negeri, masih relevankah kita menyanyikannya?

Menurutku, tidak! Pulau kelapa sudah hilang. Rayuannya sudah sirna di pompa bensin Petronas.2 Pulau melati tak lagi dipuja di piring-piring masakan Singapura, Cina, AS, Australia, Filipina di sebelah pompa bensin itu. Kini yang tampak hanyalah orang kaya yang berpuas diri tanpa menghiraukan kemelaratan yang belum menjauh dari orang miskin di sekitarnya.

Kembali ke simpang Dago. Penjual bunga yang biasanya ramai saat akhir pekan juga tiada. Tapi masih ada sekumpulan pengamen cilik—beberapa di antaranya anak perempuan—dan seorang pengemis tua di trotoar. Maka setujulah aku bahwa “jalanan, area tiang lampu merah, dan emper toko jadi kanvas lukisan sendu tentang anak-anak jalanan, pengemis, gelandangan, pengamen, dan tuna wisma.”3

Mata dan penglihatanku meneguhkan perkataan itu. Kulihat manusia—laki-laki, perempuan—lalu lalang sambil menikmati kesenangan di atas kendaraannya yang secara teratur membuang asap karbondioksida dari kenalpot. Sementara si pengemis tua duduk, setia menunggu dermawan menaruh uang logam seratusan dalam kaleng di depannya.

Berbicara soal kedermawanan pastilah berbicara tentang orang yang mau berderma dan orang yang menerima derma itu. Kalau seorang kaya ingin berderma tapi mengaku sulit menemukan tempat yang pas untuk itu, ia tidak dapat menjadi dermawan. Pertanyaannya sekarang: Seperti apakah berderma yang pas itu?

Apakah untuk pembangunan gereja yang menjulang tinggi ke angkasa atau untuk pundi-pundi amal media elektronik sehingga seluruh gereja atau negeri mengetahui kebaikan hati si pemberi amal? Apakah dengan menjadi donatur kegiatan-kegiatan mahasiswa universitas tertentu dengan harapan semakin dikenal karena namanya tercantum di daftar donatur?

Menurutku tidak. Seperti kata Yesus,“Janganlah tangan kirimu mengetahui apa yang dilakukan tangan kananmu.”4 Kita seharusnya berderma bukan untuk mengharapkan dikenal oleh sekitar kita sebagai seorang yang dermawan.

“Kasihan, Dik.” Begitu kata si pengemis tua ketika aku melintas di depannya. Kutangkap tampang memelasnya. Badannya bau keringat. Bajunya lusuh. Pecinya tak lagi hitam. Kulihat kakinya tak beralas, sandal atau sepatu. Celananya robek. Pantaslah ia dikasihani. Kukeluarkan selembar uang pecahan lima ribu rupiah. Satu-satunya uang di kantongku.

Yah, menjadi dermawan itu memang mudah. Aku mungkin tidak memberi sebesar angka yang dikeluarkan donatur-donatur kaya. Tapi setidaknya yang kulakukan tadi digerakkan oleh rasa belas kasihan. Hatiku menangis karena tujuan negeri ini untuk memajukan kesejahteraan umum ternyata belum tercapai sama sekali.

Mungkin tidak banyak yang bisa dibeli si pengemis tua dengan uang lima ribu dariku. Aku juga tidak bisa memberi lebih dari itu. Tapi biarlah tangan kasih Tuhan nyata atas dia. Dan aku yakin bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang mau memberi sejumlah uang kepadanya.

Simpang Dago hanyalah salah satu kanvas. Masih banyak kanvas lain yang tersebar di seluruh negeri. Pernahkah kita sejenak berhenti untuk mengamatinya?

Sekali lagi, menjadi dermawan itu mudah. Di sela-sela liburan, jalan-jalan, atau agenda berbelanja,siapkanlah juga hati kita!Menangis dan tergeraklah oleh belas kasihan untuk memberikan sebagian uang kita. Ceriakanlah wajah murung mereka yang berkekurangan sehingga pulau kelapa dan pulau melati dapat kembali merayu. Jadilah dermawan!

Catatan

  1. Suatu area di kawasan  Dago, Bandung, di dekat persimpangan Jalan Dipatiukur dan Jalan Ir. H. Juanda. Dago merupakan salah satu tempat favorit untuk berakhir pekan bagi warga Bandung dan para turis domestik.
  2. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik Malaysia yang berjarak sekitar 200 meter dari simpang Dago ke arah utara.
  3. Samuel Tumanggor. Memandu Bangsa: Ide-ide Nasrani untuk Kemajuan Negeri. Bandung: satu-satu, 2008, hal. 138.
  4. Matius 6:3.
Iklan

One comment on “Pulau Kelapa Berhenti Merayu di Depan Kanvas Simpang Dago

  1. Melihat, membaca, lalu menulis adalah langkah awal kepedulian, yang amat sayang sekali jika terhenti dan tak ditindaklanjuti dengan langkah nyata. Penulis dengan apik memaparkan keprihatinannya, sekarang marilah melanjutkan ke langkah selanjutnya: aksi nyata.

    Yukkk, mendoakan dan mempertimbangkan usul ini :) http://morentalisa.wordpress.com/2012/03/21/sebuah-langkah-kecil/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: