2 Komentar

Berontak Terhadap Penyalahgunaan Kesenioran (2) Suatu Pelajaran dari Kitab Ayub

Oleh S.P. Tumanggor

Kisah “bentrok” Ayub dengan ketiga sahabatnya masih punya buntut. Karena Ayub tetap berkeras dengan pemahamannya, ketiga sahabat pun terdiam seribu bahasa. Saat itulah Elihu, seorang junior lain—lebih junior dari Ayub malah—mengambil kesempatan untuk bicara.

Elihu “marah terhadap Ayub, karena ia [Ayub] menganggap dirinya lebih benar daripada Allah, dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.” Selama itu Elihu “menangguhkan bicaranya dengan Ayub, karena mereka [Ayub dan ketiga sahabatnya] lebih tua daripada dia” (Ayb. 32:2-4).

Seorang junior yang berontak juga!

Mula-mula Elihu mengakui sindrom kejunioran yang lumrah melanda orang-orang muda: “Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu. Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat” (Ayb. 32:6-7).

Tetapi ia kemudian menyatakan, sama seperti Ayub, bahwa “roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan” (Ayb. 32:8-9).

Ia menandaskan keterbatasan kesenioran juga! Dalam hal ini baik Elihu maupun Ayub memperagakan sikap yang tepat terhadap penyalahgunaan kesenioran: berontak (yakni menolak tunduk begitu saja kepada klaim kesenioran) manakala perlu dengan mengacukan diri kepada kebijaksanaan sejati yang berpangkal pada Allah.

Ini sebetulnya sisi lain dari menghormati para senior. Dengan berontak terhadap penyalahgunaan kesenioran oleh orang yang lebih tua, kita sesungguhnya memberi masukan baik kepada mereka—sepanjang cara-cara kita masih dalam koridor kepantasan. Justru hakikat kesenioran mereka diuji di sini: apakah mereka dapat menanggapi berontak itu secara arif atau tidak.

Ini pun mengajari kita berpegang pada apa yang kita ketahui benar dan bertahan dengannya di hadapan penyalahgunaan kesenioran. Allah akan mengganjar sikap yang demikian. Terbukti Ia “memenangkan” Ayub di akhir kisah. Ia berfirman kepada Elifas, yang agaknya paling senior di antara ketiga sahabat Ayub: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub” (Ayb. 42:7).

Rontoklah segala klaim bahwa kesenioran identik dengan serba tahu atau paling tahu! Si junior (Ayub) ternyata paham lebih baik dan benar daripada si senior (Elifas).

Faktanya, Allah lebih tinggi dari siapa pun, dan Ia menggulirkan hidup yang tak sesederhana dua tambah dua sama dengan empat. Karena Allah lebih tinggi dan karena hidup tak sederhana, kita boleh yakin bahwa pemahaman setiap kita terbatas sehingga kearifan dalam menanggapi segala sesuatu sangat dituntut dari kita. Di mana tanggapan-tanggapan kesenioran mendepak kearifan, di situ terjadi penyalahgunaan kesenioran, dan di situ berontak demi kebaikan dan kebenaran dibutuhkan.

Tetapi berontak tentu saja bukan sembarang berontak. Cara-caranya, sekali lagi, perlu tetap ditundukkan kepada kepantasan. Ayub sendiri meladeni tuduhan seniornya sesantun mungkin, dengan argumen-argumen logis—meski perkataannya terkadang keras dan menjurus kasar. Elihu menahan diri sampai para senior, menurut perasaannya, sudah keterlaluan.

Jadi, manakala menghadapi penyalahgunaan kesenioran, kita bisa mengangkat sikap serupa, yang diterjemahkan dalam cara-cara tertentu sesuai dengan konteks. Di organisasi, misalnya, kita bisa berontak terhadap penyalahgunaan kesenioran melalui surat, percakapan pribadi, penggalangan dukungan anggota lain, atau bahkan hengkang.

Di rumah, kita bisa mengupayakan dialog dalam iklim harga-menghargai atau bahkan bersabar sampai punya rumah tangga sendiri yang memperagakan bahwa kesenioran tak akan pernah disalahgunakan di dalamnya.

Di pelayanan Kristen, sama juga, dan asas pokok dari Kitab Ayub ini perlu kita hayati dengan pemahaman yang terbarukan: pada Allahlah hikmat, bukan pada orang yang lanjut umurnya (baca: senior).

Dalam semua itu, kalaupun berontak perlu dilancarkan, kita harus ingat bahwa hormat kepada yang tua/senior tetaplah norma. Namun, pada saat bersamaan, asas “pada Allahlah hikmat” menuntun kita untuk tidak menyakralkan kesenioran tetapi berani berontak terhadap penyalahgunaannya demi kemajuan pribadi, bangsa, dan Gereja.

Iklan

2 comments on “Berontak Terhadap Penyalahgunaan Kesenioran (2) Suatu Pelajaran dari Kitab Ayub

  1. Menunjukkan sikap sesuai konteks memang sangat penting, khususnya di gereja saya yang tergolong gereja tradisional. Hoho. Jika ingin bertahan dalam sistem kesenioritasan yang tidak sehat, idealisme tidak cukup. Cara menyampaikan atau menunjukkan sikap sesuai konteks mungkin lebih berhasil. Lagi-lagi saya harus kembali pada prinsip “cerdik seperti ular, tulus seperti merpati”.

  2. Saya sering baca dan dengar ceramah dari kitab Ayub, tapi tak pernah menyinggung tentang topik ini(senior-junior). Kebanyakan berisi tentang “kekuatan ditengah pencobaan”. Semoga tulisan ini semakin membuka mata rohani kita yg membaca, bahwa Firman Tuhan kaya pesan dan nilai-nilai hidup.
    Trimakasih kombi buat pencerahannya,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: