1 Komentar

Ruang Bertumbuh bagi Si Junior

Oleh Viona Wijaya

Kesenioran dapat kita jumpai hampir di segala jenis perkumpulan. Umur, “jam terbang,” serta jabatan adalah beberapa faktor yang menentukan kesenioran seseorang. Pada umumnya makin tua umur, makin panjang “jam terbang”, serta makin tinggi jabatan akan membuat seseorang dipandang makin senior.

Kesenioran di kalangan Kristiani tentu sudah kita alami sendiri. Jabatan-jabatan formal seperti gembala, majelis, pengurus, dsb menentukan kesenioran seseorang dalam komunitas Kristiani. Posisi yang cenderung informal pun, misalnya aktivis, pembimbing rohani, kakak PA, pemimpin kelompok sel, dapat membuat seseorang dianggap sebagai senior.

Kesenioran dalam komunitas Kristiani merupakan hal yang wajar. Karena membutuhkan teladan, secara alami para junior akan mencari sosok yang dapat dijadikan panutan. Di sisi lain, dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, para senior mampu memperkaya para junior. Hubungan senior-junior yang demikian akan membawa banyak kebaikan bagi keduanya.

Kesenioran baru menjadi masalah ketika hubungan senior-junior berubah jadi dominasi senior atas junior. Dalam pola ini, para senior menjadi pihak yang merasa paling tahu segalanya sedangkan para junior harus selalu menurut karena dianggap tak tahu apa-apa.

Sering kita temui senior di komunitas Kristiani yang mendominasi pengambilan keputusan sehingga kreativitas junior tak dapat berkembang. Usul-usul dari junior dapat dengan mudah dimentahkan apabila senior tak sependapat, terutama apabila muatan usul-usul itu berbeda dengan tata cara yang biasa dijalankan para senior.

Pola hubungan ini juga cenderung mematikan kekritisan para junior. Banyak junior yang kemudian hanya jadi bak kerbau dicocok hidung, sedang yang kritis dan kreatif memilih keluar dari komunitas Kristiani. Perkembangan dan kegerakan umat Kristen jadi terhambat ketika junior hanya bisa membebek apa yang dilakukan senior. Memiliki pemikiran berbeda diberi label “menyimpang.” Menegur senior dianggap “memberontak.” Sungguh mengerikan jika kesenioran di komunitas Kristiani sudah sampai ke titik ini!

Para junior adalah ibarat tunas-tunas tanaman yang tengah bertumbuh, dan pola hubungan senior-junior yang tak sehat dapat mematikan mereka. Mereka jadi seperti tanah kering di mana kreativitas  sukar berkembang atau pot terlalu kecil di mana terobosan-terobosan terbentur dinding-dinding yang kaku. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa kita jarang melihat inovasi dari kalangan Kristiani.

Saya telah mendengar dan menjumpai praktik kesenioran tak sehat terjadi di berbagai kalangan Kristiani. Tapi bukan berarti tidak ada komunitas Kristen yang berhasil menjaga hubungan senior-junior yang sehat. Saya pribadi terlibat dengan beberapa komunitas yang memberi ruang bertumbuh bagi juniornya.

Dalam komunitas-komunitas ini diskusi mengenai firman sering dilakukan dan kebenaran tidak dimonopoli oleh senior. Junior mendapat asupan pengetahuan dan pengalaman dari senior, sementara senior tak enggan mendengar pendapat “adik-adiknya.”

Ide-ide junior dihargai dan didiskusikan bersama-sama. Tetapi jika ada kesalahan atau keteledoran, senior tak ragu mengoreksi juniornya. Jadi, kekreatifan dan kekritisan tak dibiarkan menjadi “liar.”

Junior diberi kepercayaan memegang tanggung jawab sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Jadi senior tidak menghalang-halangi junior untuk berkembang, tapi justru mendorong dan membimbing  agar junior dapat bertumbuh.

Pola demikian hanya bisa terlaksana ketika ada kerendahan hati pada kedua belah pihak. Baik senior maupun junior harus sama-sama menyadari bahwa mereka dapat saling memperkaya. Sikap mau mendengar, diajar, ditegur, harus dimiliki kedua belah pihak.

Mewujudkan pola ini memang tak mudah. Di dalamnya, gesekan (perdebatan, saling menegur dan mengoreksi) antara senior dan junior bisa semakin banyak. Tapi bukankah Amsal 27:17 mengatakan “besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”?

Keangkuhan tak boleh dibiarkan merajalela dalam hubungan senior-junior. Sebaliknya, kasih dan kerendahan hati harus selalu dijadikan landasan. Di atas landasan ini gesekan yang muncul tak akan membawa kehancuran tetapi justru menjadi alat yang menajamkan dan memperkaya pergerakan umat Kristen.

Sungguh, tak ada alasan bagi kita membiarkan kesenioran yang tak sehat terus bercokol di kalangan Kristiani. Berilah ruang bertumbuh bagi si junior—bagi tunas muda! Kelak kita akan melihatnya berkembang jadi besar, kokoh, kuat, dan berdampak baik bagi bangsa dan Gereja.

Iklan

One comment on “Ruang Bertumbuh bagi Si Junior

  1. Baiklah, Viona. Terima kasih untuk tulisan kamu yang bagus dan inspiratif ini.
    Faktanya, orang Indonesia pada umumnya kurang percaya diri, termasuk saya.Hehe. Para junior juga perlu lebih percaya diri dan berani menunjukkan kelebihannya tanpa memberi kesan “meremehkan” seniornya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: