4 Komentar

Senior, Junior, dan Organisasi

Oleh Sarpianto

“Sangat mematikan kreativitas,” ungkap seorang teman saya tentang kuatnya pengaruh senior dalam organisasinya. “Kalau segala sesuatu harus menunggu persetujuan senior,” lanjutnya, “kapan kita bisa mandiri?”

Saya rasa pemikiran teman ini sangat masuk akal. Meskipun pendapat senior yang dimaksudnya itu mungkin penting, junior perlu diberi kepercayaan besar supaya bisa mandiri dan kreatif.

Dalam suatu organisasi, biasanya senior memang orang-orang yang sudah lama aktif dan mengembangkan organisasi itu. Mereka adalah perintis atau generasi kedua yang paling banyak tahu perjalanan organisasi. Karena itu kehadiran senior menjadi penting bagi suatu organisasi, terutama untuk menjaga keutuhan visi-misi dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Tapi bagaimana kalau kesenioran justru disalahgunakan?

Saya pernah bertemu dengan seorang yang menjabat sebagai ketua sinode suatu organisasi gereja sejak awal gereja itu berdiri hingga sekarang—lebih dari seperempat abad. Setiap keputusan harus menunggu persetujuannya. Keputusannya sangat penting dan tak terbantahkan. Hal ini tentu saja menunjukkan kesenioran yang disalahgunakan.

Masalah serupa tampak pula dalam organisasi pemuda. Ide-ide senior sering kali dipandang lebih baik, tanpa dilihat lagi apakah sesuai atau tidak dengan zaman yang sudah berganti. Senior selalu lebih didengar, dianggap lebih tahu dan berpengalaman. Dan ini menjadi alasan bagi para senior untuk bertahan di posisi penting organisasi, terutama di kepengurusan inti.

Para junior pun terkadang menerima saja dan memilih untuk ikut saja, dengan alasan menghormati senior, masih ada banyak waktu, dan sebagainya. Tapi sadarkah kita bahwa kondisi seperti ini justru menghambat daya kreatif para junior? Padahal belum tentu yang junior kurang cakap dalam mengelola organisasi. Bagaimana bila yang senior tiba-tiba tidak bisa lagi aktif? Tidakkah itu akan  mengancam perjalanan organisasi?

Peran senior yang teramat sentral akan sangat merugikan organisasi. Sudah seharusnya senior menyadari hal ini dan serius mempersiapkan generasi yang cakap untuk menggantikan mereka. Senior wajib mentransfer ilmunya dan memantau juniornya supaya tetap searah dengan program organisasi yang dijalankan.

Perekrutan anggota merupakan langkah awal untuk mempersiapkan generasi selanjutnya. Dalam proses ini junior perlu dibekali pengetahuan yang baik untuk melanjutkan kepengurusan, digembleng dan dididik tentang cara menjalankan organisasi. Para senior perlu membuat program agar para junior mendapatkan porsi keilmuan dan pengetahuan yang sama dengan mereka.

Hubungan dan komunikasi yang baik antara senior dan junior juga perlu dibangun. Dalam hubungan yang akrab, senior bisa jadi tak tersinggung saat dikritik dan junior tidak merasa sungkan untuk mengkritik seniornya. Junior juga sebaiknya jangan malu bertanya atau memberi usul kepada senior dan mengkritisi hal-hal yang perlu untuk perkembangan organisasi.

Senior tidak perlu malu mengaku tidak tahu saat juniornya menanyakan hal yang tidak dikuasainya. Ini penting untuk menghindari pemahaman yang salah dan untuk estafet visi-misi. Alangkah baik jika senior menganjurkan juniornya bertanya kepada senior lain yang lebih paham. Di lain pihak, junior juga harus bisa menilai senior mana yang bisa ditanyai untuk menimba ilmu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa orang memang sangat menikmati posisinya sebagai senior. Mereka gemar mencari pengaruh dalam organisasi dan senang menjadi pengurus organisasi selama bertahun-tahun, seolah-olah merekalah yang terhebat dan paling tahu segalanya. Mereka juga biasanya tak mau dibantah atau dikritik.

Menghadapi senior seperti ini, saya kira junior perlu berani mengusulkan regenerasi. Namun usulan pun harus dilakukan secara hati-hati—harus diingat bahwa senior biasanya punya pengikut setia yang ingin dia tetap di atas—agar tidak menimbulkan perpecahan pada organisasi.

Sesungguhnya organisasi yang bertahun-tahun “dikuasai” senior tidaklah baik. Organisasi perlu penyegaran ide sesuai dengan zamannya. Maka senior yang telah lama menjadi pengurus sudah sepatutnya beristirahat dan mulai mempercayai juniornya. Baik sekali jika sesama senior juga bisa saling mengingatkan mengenai hal ini.

Jadi, ketika tunas-tunas baru muncul dalam organisasi, biarlah mereka disambut dengan girang dan antusias, diberi kesempatan dan kepercayaan. Biarlah mereka dileluasakan untuk kreatif dan mandiri dalam melanjutkan kinerja organisasi di tengah dinamika zaman—zaman mereka.

Iklan

4 comments on “Senior, Junior, dan Organisasi

  1. benar sekali pendapat anda bung sarfi,…. organisasi yg baik memang butuh jiwa dan pemikiran yg segar, guna memaksimalkan fungsi dari organisasi tsb…

    • Terima kasih bung Willi, duet pemikiran yang segar(junior) dengan pengalaman(senior) benar-benar duet yang cantik.

  2. Kalau kita melihat stasiun televisi milik pemerintah hal ini dapat terasa dari tayangan2nya :) dan memang benar, perlu regenerasi untuk mengubahnya sesuai zaman tanpa meninggalkan nilai dasarnya.. Salam kenal..

    • Salam kenal juga,
      ya sehari-hari kita disajikan bagaimana dominasi senior terhadap juniornya. Maka butuh regenerasi yang baik, dan pembinaan terhadap junior perlu disesuaikan dengan zaman mereka. Terima Kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: