Tinggalkan komentar

Nuansa Budaya Indonesia dalam Perayaan Natal: Suatu Teladan dari Gereja Katolik Jawa

Oleh Efraim Sitinjak

Salut untuk beberapa gereja Katolik Jawa yang kreatif dalam membungkus perayaan Natal! Mereka memahami nilai am Natal dalam khazanah budaya dan tidak terpaku pada ide bawaan negeri seberang dengan pohon cemara, salju, dan Santa Clausnya.

Jemaat dan pengurus gereja-gereja ini tahu bagaimana mereka harus melebarkan ide Natalnya. Mereka mengusung ide sendiri sementara kebanyakan gereja lain sibuk dengan ide luar. Nuansa adat dan budaya Jawa terasa kental dalam ibadah dan perayaan Natal mereka. Tidak ada pohon terang dari cemara berhiaskan kapas putih yang menjiplak salju. Lagu-lagu gerejawi dinyanyikan dalam langgam Jawa dengan iringan bunyi perkakas musik tradisional.

Ambil contoh misa Natal di Kedu, Jawa Tengah. Gereja Katolik di sana mengemasnya dengan nuansa Jawa dan pertanian. “Hal ini dilakukan karena Kevikepan Kedu tidak lepas dari budaya masyarakat pegunungan yang sebagian besar adalah petani,” kata pengurus gereja. Warga berparade dengan menggunakan kostum petani Jawa—sebagai ganti kostum Santa Claus. Dalam ibadah Natal, pastor pun memohonkan berkat Allah atas para petani agar panen mereka berhasil.1

Begitu juga dengan misa malam Natal di Kapel Gubug Selo Merapi, Paroki Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, di kawasan barat Gunung Merapi. Misa dilangsungkan gereja dengan bahasa Jawa dan iringan gamelan. Setelah misa, warga gereja mengadakan pesta rakyat, sedangkan komunitas seniman petani Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor mementaskan wayang orang dengan lakon Bimo Bungkus.2

Contoh lain lagi adalah prosesi misa Natal Gereja Santo Ignatius Loyola di Dusun Seminrejo, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul yang melibatkan adat dan bahasa Jawa. “Ini dimaksudkan sebagai upaya melestarikan tradisi daerah,” ujar Satimin, ketua wilayah gereja tersebut. Kesehatian jemaat dalam mendukung upaya tersebut terlihat dari pakaian batik yang mereka kenakan saat mengikuti misa Natal. Prosesi misa Natal selama dua jam itu pun diiringi seni karawitan gamelan Jawa dan pementasan drama Natal berbahasa Jawa. 3

Banyak hikmah yang bisa dipetik gereja-gereja Indonesia (baik gereja suku maupun gereja lintas suku) dari contoh kasus Gereja Katolik Jawa di atas. Satu yang sangat penting adalah hikmah tentang mempersembahkan yang terbaik bagi Sang Kristus dari kekhasan budaya sendiri. Tindakan ini merupakan suatu pengakuan bahwa Kristus memang berdaulat atas bangsa-bangsa (jamak!) sekaligus membuat kekristenan dekat dengan hati rakyat.

Di negeri-negeri Eropa, yang ungkapan-ungkapan kekristenannya biasa kita ikuti, tradisi perayaan Natal banyak menyerap unsur budaya setempat. Sebagai contoh, penduduk negeri-negeri Skandinavia di Eropa Utara menggabungkan Yule, festival musim dingin mereka di masa pra-Kristen, dengan Natal.4 Tak heran dalam bahasa Inggris kata yuletide berarti “masa raya Natal.” Penduduk negeri-negeri Slav di Eropa Timur pun tak ketinggalan menggabungkan Koleda, festival musim dingin mereka di masa pra-Kristen, dengan Natal.5

Sayangnya, pada umumnya tradisi perayaan Natal di Indonesia hanya merupakan tiruan dari tradisi-tradisi negeri lain. Padahal kekreatifan mengolah budaya sendiri demi mendapatkan tradisi perayaan Natal yang khas Indonesia sama sekali tidak salah atau melanggar Alkitab. Jemaat Katolik Jawa sudah meneladankannya bagi umat Kristen Indonesia.

Mengikuti jejak mereka, berbagai musik daerah yang dulu hanya diperuntukkan bagi kaum ningrat bisa saja kini diolah menjadi lagu pujian bagi Sang Raja. Pernak-pernik penghias gereja atau pohon Natal bisa saja dikelola berdasarkan motif-motif Nusantara. Kidung-kidung Natal tentu saja bisa digubah dengan irama khas suku-suku Indonesia. Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan—sebanyak ungkapan budaya Nusantara dan sebanyak makna yang tercakup dalam kata “kreatif.”

Mari melebarkan ide kreatif kita untuk mempersembahkan keunikan Indonesia sebagai dupa harum yang mengungkap rasa syukur atas kelahiran Mesias.

Catatan

1 Meisy Billem. “Perayaan Natal ala Petani Jawa” dalam situs beritasatu. <http://www.beritasatu.com/budaya/perayaan-natal-ala-petani-jawa.html >.

2 Masduki Attamimi. “Bagilah Kebahagiaan Itu untuk Sesama” dalam situs antaranews.com.  <http://www.antaranews.com/berita/bagilah-kebahagiaan-itu-untuk-sesama >.

3  “Umat Nasrani Gunung Kidul Rayakan Natal dengan Balutan Budaya Jawa” dalam situs Kristiani Pos. <http://www.christianpost.co.id/budaya/umat-nasrani-gunung-kidul-rayakan-natal-dengan-balutan-budaya-jawa/ >.

4 “Yule” dalam Wikipedia. <http://en.wikipedia.org/wiki/Yule >. Negeri-negeri orang Skandinavia mencakup Swedia, Denmark, dan Norwegia.

5 “Koleda” dalam Wikipedia. <http://en.wikipedia.org/wiki/Koleda >. Negeri-negeri orang Slav mencakup Rusia, Ukraina, Polandia, Ceko, Slowakia, Slovenia, Kroasia, Serbia, Bulgaria, dan lain-lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: