Tinggalkan komentar

“Engkau Kira Aku Ini Mabuk Disembah?”

Oleh Viona Wijaya

“Engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. … Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu tidak lain dari hanya memuji-muji dan menyembah-Ku saja. Kamu semua mesti masuk neraka.”1

Teguran keras di atas dilontarkan Tuhan kepada Saleh dkk. dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” garapan A.A. Navis. Usaha Saleh dkk. untuk meralat keputusan Tuhan, yang menjebloskan mereka ke neraka meski mereka taat beribadah, gagal total. Mendengar jawaban Saleh bahwa mereka berasal dari Indonesia, negeri yang kaya tapi melarat, Tuhan sangat tidak senang. Muncullah teguran keras itu.

Teguran itu menyiratkan bahwa Saleh dkk. telah salah menilai Tuhan sebagai sosok yang “mabuk disembah.” Sebagai akibatnya, mereka hanya senang beribadah saja di dunia. Tetapi mereka dikecam Tuhan karena lalai berlaku baik kepada sesama dan lalai mengelola kekayaan negeri untuk kesejahteraan bersama. Lebih dari sekadar kesalehan pribadi, Tuhan juga menginginkan kesalehan sosial, kesalehan yang berdampak kepada masyarakat.

“Robohnya Surau Kami” memang ditulis oleh seorang sastrawan Muslim, tetapi umat Kristen pun sangat bisa memetik pelajaran darinya. Ini terjadi karena gejala salah menilai Tuhan juga bisa didapati pada umat Kristen. Kita bisa giat memuji dan menyembah-Nya dalam ritual agama, tetapi abai mendaratkan ibadah dan kesalehan kita kepada kehidupan sehari-hari. Celakanya, sama seperti Saleh, kita menyangka Tuhan senang akan tindak-tanduk kita itu.

Dalam Alkitab, kita dapat menemukan teguran senada. Tuhan menyatakan di Hosea 6:6, “Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran.” Ia menegur umat-Nya karena telah salah menilai-Nya sebagai Tuhan yang “mabuk disembah”! Lebih dari korban sembelihan dan korban bakaran yang melambangkan ritual agama, Tuhan menyatakan dua hal yang disukai-Nya: kasih setia dan pengenalan akan Allah.

Pengenalan akan Allah, lewat tindakan mendalami Kitab Suci-Nya dan membangun relasi dengan-Nya, menolong kita mengetahui apa yang benar-benar disukai-Nya. Tanpa itu, kita akan mengira-ngira saja apa yang disukai Tuhan. Akibatnya, kita bisa menyimpulkan secara sembrono bahwa kesalehan pribadi sajalah yang disukai Tuhan. Kita pun salah menilai keinginan Tuhan.

Kasih setia merupakan bukti dan buah dari pengenalan akan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kasih setia diamalkan dengan cara mengasihi, berbuat baik, dan bermurah hati kepada sesama. Jadi, kasih setia mencorongkan kesalehan pribadi kita kepada kesalehan sosial, kesalehan yang berdampak kepada lingkungan sekitar, kepada bangsa, negara, dan dunia.

Dalam kenyataan, memang banyak dari kita yang terjerat sindrom salah menilai keinginan Tuhan. Kita mudah saja menemukan orang Kristen yang suka menjalankan ritual agama tetapi, kalau mengutip teguran Tuhan kepada Saleh dkk., “juga suka berkelahi di antara sesamanya sendiri, menipu dan memeras.” Kita mudah pula menemukan orang Kristen yang suka berdoa bagi bangsa tetapi malas belajar, mengembangkan diri, untuk mengelola kekayaan bangsa—sehingga bisa dikomentari Tuhan, “Aku beri kau negeri yang kaya, tapi kau malas.” Akhirnya, memang “kerjamu tidak lain dari hanya memuji-muji dan menyembah-Ku saja.” Tak aneh kalau Tuhan kemudian menghardik, “Kau kira Aku mabuk disembah?”

Ya, ketika kesalehan pribadi tidak beriringan dengan kesalehan sosial, puja-puji dan sembah yang kita sangka membuat Tuhan senang justru membuat-Nya “jemu,” “tidak tahan melihatnya,” dan “payah menanggungnya.”2

Ibadah dan kesalehan pribadi adalah baik. Tetapi berhenti pada ibadah dan kesalehan pribadi saja tidaklah baik. Semua itu harus diikuti dengan pengamalan kasih setia kepada sesama kita sebagai buah pengenalan kita akan Tuhan.

Kiranya kita tidak salah menilai Tuhan (lagi). Kiranya waktu kita berhadapan dengan Tuhan nanti, kita tidak perlu mendengar Tuhan bersabda, “Kau kira Aku ini mabuk disembah?”

Catatan

1 A.A. Navis. Robohnya Surau Kami. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010, hal. 11-12.

2 Lihat Yesaya 1:11-14.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: