Tinggalkan komentar

“Kalian di Dunia Tinggal di Mana?”

Oleh Sarpianto

“Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.”

“Kalau Tuhan tidak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’

“Kita protes. Kita resolusikan.”

“Apa kita revolusikan juga?”

“Itu tergantung pada keadaan, yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.”1

Begitulah cuplikan perbincangan lakon Saleh dengan rekan-rekan senasibnya dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” karya A.A. Navis, sastrawan ternama asal Sumatera Barat. Saleh dan rekan-rekannya tak terima dijewer malaikat masuk neraka. Mereka kebingungan: kurang beribadah bagaimana lagi mereka selama ini?

Tidak puas dengan keputusan Tuhan, mereka berembuk untuk menggugat Tuhan agar menganulir keputusan-Nya. Saleh menjadi juru bicara kelompok penggugat ini. Di hadapan Tuhan, ia menceritakan ketaatan dan kesalehan hidup mereka di dunia. Tuhan pun menanggapi para demonstran ini dengan bertanya, “Kalian di dunia tinggal di mana?”2

“Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku,” jawab Saleh. Tuhan kemudian menanggapi Saleh dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengungkapkan ironi negeri Indonesia. Meskipun subur, negeri Indonesia lama diperbudak negeri lain. Orang asing leluasa mengeruk kekayaan alamnya, sementara penduduknya sendiri melarat bahkan asyik berkelahi di antara mereka sendiri.3 Semua ini mengingatkan Saleh bahwa ibadah belaka tidak cukup jika manusia tidak mengelola berkat-berkat yang Tuhan berikan demi kebaikan bersama.

A.A. Navis tentu menulis cerpennya dari sudut pandang seorang Muslim. Namun, dalam hal ini, sudut pandang itu punya kesesuaian dengan sudut pandang kristiani. Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius. 25:14-30), misalnya, Tuhan menginginkan umat-Nya untuk mengembangkan talenta (keahlian, kesempatan, jabatan, dll.) yang sudah diberikan-Nya. Ini tentu sangat bisa dikaitkan dengan  pembangunan negeri pula.

Sebagai contoh, orang yang diberi “talenta” keahlian di bidang pertambangan sepatutnya memakai keahliannya untuk memajukan pertambangan Indonesia. Orang yang diberi “talenta” kesempatan memegang jabatan menteri bidang tertentu sepatutnya memakai kesempatan itu untuk membangun Indonesia di bidang itu. Hanya orang yang mengembangkan talentanyalah yang dipuji Tuhan (Mat. 25:21, 23).

Dalam cerpen Navis, ketika Tuhan bertanya, “Kalian di dunia tinggal di mana?” bukan berarti Ia tidak mahatahu. Sebaliknya, Ia menggunakan pertanyaan itu untuk menggugah kesadaran Saleh akan apa sebetulnya yang telah dilakukannya untuk sesama/negeri. Ini pelajaran penting bagi kita. Sudahkah kesalehan kita diiringi dengan kerajinan bekerja bagi negeri? Atau, percumakah Tuhan membuat kita bertempat tinggal di negeri Indonesia yang subur dan kaya ini?

Umat Kristen, sebagai warganegara yang baik, harus terlibat aktif dalam memecahkan persoalan negeri. Jangan karena asyik beribadah, mengurusi hal rohani melulu, lalu kita mengabaikan hal seperti kemajuan negeri dan berpikir bahwa ini hanya tugas para politisi atau akademisi. Janganlah kita merasa cukup dengan menyembah Tuhan saja, tetapi biarlah ibadah kita menggerakkan kita, sesuai dengan talenta masing-masing, untuk berkarya baik di segala bidang kehidupan

Janganlah pula kita saling bertengkar, memperdebatkan hal-hal yang tidak penting, sampai kehabisan energi. Itu hanya akan memberi peluang kepada orang asing yang berniat tidak baik untuk melemahkan kita—mengadu domba dan mencuri kekayaan alam kita. Biarlah kita menguatkan hati untuk bekerja keras demi keamanan dan kesejahteraan negeri.

Beribadah memang harus kita tekuni, tapi janganlah ketekunan beribadah melengahkan kita terhadap tanggung jawab kepada negeri. Kelak, ketika kita menghadap Tuhan, dan sekiranya Ia bertanya, “Kalian di dunia tinggal di mana?” biarlah kita bisa dengan lantang menjawab, “Di Indonesia, negeri subur dan kaya pemberian Tuhanku. Di sana kami tidak kurang beribadah dan tidak kurang berkarya mengembangkan talenta untuk mengelola berkat-berkat yang Tuhanku berikan demi kebaikan kami, anak cucu kami, dan sesama manusia.”

Catatan

1 A.A. Navis. Robohnya Surau Kami. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010, hal. 9.

2 A.A. Navis, hal. 10.

3 A.A. Navis, hal. 10-11.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: