1 Komentar

“Lain?”

Oleh Daniel Siahaan

“Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.”

“Lain?”

“Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.”

“Lain?”

“Segala tegah-Mu kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, …”

“Lain?”

“Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. …”

“Lain?”1

Percakapan imajiner di atas termuat dalam cerpen mashur A.A. Navis, “Robohnya Surau Kami.” Dalam cerpen itu dikisahkan sosok saleh bernama Saleh yang ternyata dicampakkan ke neraka oleh Tuhan lantaran kesalehan yang dikerjakannya tidak sesuai dengan kesalehan yang Tuhan inginkan darinya. Percakapan imajiner itu terjadi ketika Saleh baru menghadap Tuhan di akhirat dan segala perbuatannya di dunia diperiksa.

Saleh menangis kebingungan karena tanggapan Tuhan, tetapi air matanya tidak membuat Tuhan berempati. Tuhan malah kembali menodongnya dengan pertanyaan: “Lain lagi?” Karena Saleh tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan,Tuhan mengakhiri pemeriksaan itu dengan berkata, “Masuk kamu”—untuk memastikan satu tempat bagi Saleh di neraka.2

Walau ditulis dengan napas islami, cerpen Navis bisa memberi kita, umat Kristen, pelajaran berharga juga.Terlepas dari beberapa pemahaman teologis yang berbeda, umat Kristen bisa menarik manfaat atau bahkan tertegur oleh ide brilyan Navis. Jika kita mengenal ide Alkitab, tak dapat tidak kita setuju dengan ide ini: Tuhan tidak suka umat-Nya hanya bisa berdoa, memuji, dan menyembah-Nya.

Dalam “Robohnya Surau Kami,” Tuhan hanya berkata “lain?” tanpa memberi pujian sedikit pun ketika mendengar sepak terjang hidup Saleh. Artinya, Tuhan tidak puas jika hidup orang hanya diisi dengan ibadat, ibadat, dan ibadat saja. Doa, pujian, dan penyembahan memang sepatutnya kita kerjakan di hadapan Tuhan. Tuhan menyukai semua itu, tetapi Ia tidak suka kalau hanya itu yang kita lakukan dalam hidup kita.

Dengan demikian, kata “lain?” juga merupakan teguran yang keras. Seakan-akan Tuhan berkata, “Masakan engkau tidak berbuat apa-apa lagi?” Manusia manapun—termasuk kita, umat Kristen—adalah makhluk sosial. Masakan sepanjang hidup kita hanya mau bergaul dengan Tuhan? Kita diberi tangan dan kaki bukan untuk dilipat/ditekuk dalam doa belaka, tapi juga untuk dipakai berjuang menegakkan keadilan bagi sesama. Kita diberi mulut dan telinga bukan untuk memuji Tuhan dan mendengar sabda belaka, tapi juga untuk menyuarakan kesetiaan kepada hukum dan mendengar dengan rendah hati jeritan sesama yang tertindas.

Alkitab mengisyaratkan persis begitu. Dalam Mikha 6:8, kita mendengar sabda nabi: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (tekanan oleh penulis).

Di ayat sebelumnya, ayat 7, segala hal itu dibandingkan dengan persembahan berupa “ribuan domba jantan” dan “puluhan ribu curahan minyak.” Manusia yang berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati lebih dikenan Tuhan daripada yang memberikan ribuan, bahkan puluhan ribu, persembahan kepada-Nya tanpa melakukan semua hal itu. Kesalehan baru dikenan Tuhan jikalau berdampak nyata bagi orang lain.

Semua itu tentunya bisa dimulai dari rumah kita sendiri: orang tua berlaku adil kepada anak-anak, suami-istri setia kepada pasangannya, kakak-beradik saling rendah hati. Dan semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa sesungguhnya kita ini hidup di hadapan Allah—di bawah pengamatan-Nya. Dari lingkaran kecil keluarga, semua itu kemudian harus bergerak kepada lingkaran yang lebih besar: lingkungan, masyarakat, bangsa, dan dunia.

“Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?”3 Demikianlah pertanyaan terakhir Tuhan kepada Saleh yang menegaskan bahwa Ia tidak suka jika manusia hanya mengisi hidupnya dengan ibadat saja selama di dunia. Pertanyaan itu baik untuk kita jadikan pemacu karya dan bakti bagi sesama selama hidup di dunia ini. Ketika kita menghadap Tuhan di akhir usia nanti, ketika kinerja hayat kita diperiksa-Nya, tentulah kita tak ingin terkejut dan kecut oleh tanggapan satu kata-Nya yang tegas—“lain?”

Catatan

1 A.A. Navis. Robohnya Surau Kami. Jakarta: Gramedia, 2010, hal. 6-7.

2 A.A. Navis, hal. 7-8.

3 A.A. Navis, hal. 8.

Iklan

One comment on ““Lain?”

  1. […] terus menanyakan perbuatannya yang lain—hal yang tak dapat dijawabnya. Belajar dari adegan itu, Daniel Siahaan mengungkapkan bagaimana Tuhan menginginkan kesalehan yang berdampak nyata kepada orang lain. Ia […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: