Tinggalkan komentar

Damai Dirindu Bumi

Salam sejahtera di bulan dua belas 2014, Sidang Pembaca!

Masa raya Natal identik dengan kata “damai.” Ini tak mengherankan, sebab Yesus Kristus yang kelahiran-Nya diperingati pada hari Natal dimaklumkan Kitab Suci sebagai “Raja Damai” (Yes. 9:5). Ia hadir untuk menjawab persoalan terompaknya damai di bumi sejak umat manusia memutuskan untuk menempuh jalan dosa dan angkara.

Sayangnya, di tengah sibuk dan hiruk-pikuk perayaan Natal, ihwal terompaknya damai di bumi itu mudah sekali luput dari perhatian para peraya Natal. Di tengah marak dan meriah pesta Natal, krisis damai yang melatari datangnya Kristus mudah sekali terabaikan atau terlupakan. Ini sebetulnya tidak patut, sebab Natal tak pernah bisa dilekangkan dari damai yang dirindukan bumi.

Maka di masa raya Natal kali ini Komunitas Ubi (Kombi) ingin mengingatkan pembaca kepada krisis damai itu. Tujuannya tak lain dari memperjelas makna dan hikmah kedatangan Kristus ke dunia. Uniknya, alih-alih mengetengahkan lagu-lagu Natal, Kombi mengetengahkan beberapa lagu sekuler/non-gerejawi yang populer untuk membuktikan nyatanya krisis itu. Lima peladang menyelami lima lagu lalu membingkiskan tulisan Natalnya.

“Bagaimana dengan segala damai,” erang Michael Jackson dalam lagu Earth Song, “yang mengharuskanmu menjaminkan putra tunggalmu?” Menggamit lagu itu, S.P. Tumanggor menunjukkan bagaimana damai amat dirindukan seantero bumi dan dijanjikan Allah kepada manusia lewat tindakan Natal: menjaminkan Putra Tunggal-Nya. Rintihan Earth Song bersesuaian dengan keluhan dan “sakit bersalin” segala makhluk yang disebutkan di Roma 8:20-22.

“… dan perang tak akan pernah dimulai, … dan kasih tak akan pernah berakhir,” pinta Natalie Cole dalam lagu Grown-Up Christmas List. “Inilah daftar permintaan Natalku sebagai orang dewasa.” Melibatkan lagu itu, Daniel Siahaan menunjukkan bagaimana kedewasaan berpikir dapat melihat damai di bumi sebagai permintaan Natal yang alkitabiah, logis, dan tak egois. Permohonan Grown-Up Christmas List menemukan jawabannya dalam janji ilahi tentang Raja Damai dalam Yesaya 9:5-6.

“Aku butuh damai, sedikit damai,” ungkap grup musik Gorky Park dalam lagu Peace in Our Time, “jika kita ingin bertahan hidup.” Menggaet lagu itu, Lasma Panjaitan menunjukkan bagaimana Natal menawarkan damai kepada manusia di tengah segala masalah dan tantangan hidup. Kebutuhan Peace in Our Time bisa dipenuhi sekiranya orang mau bersandar kepada Tuhan sumber damai sejahtera sebagaimana dinyatakan dalam Yesaya 26:3.

“Andai semua orang di dunia memiliki pikiran seperti pikiranmu,” ujar grup musik Michael Learns to Rock dalam lagu Sleeping Child, “… akan ada damai abadi di bumi.” Merangkul lagu itu, Efraim Sitinjak menunjukkan bagaimana damai yang dirindu bumi dapat diraih jika kita dapat belajar dari karakter anak kecil yang tulus dan tenang—seperti Sang Anak Natal yang terlelap di palungan Betlehem. Gambaran Sleeping Child tentang kedamaian anak kecil serasi dengan ide “menjadi seperti anak kecil” yang diutarakan Kristus di Matius 18:3.

“Yesus, bisakah Kauambil waktu,” tanya grup musik U2 dalam lagu Peace on Earth, “untuk melemparkan tali kepada orang tenggelam? Damai di bumi.” Merekrut lagu itu, Viona Wijaya menunjukkan bagaimana frasa Natal “damai di bumi” menuntut peran aktif para peraya Natal untuk membawa damai di bumi, untuk menjadi “tali penolong” bagi mereka yang tenggelam dalam tikai dan teror. Dambaan Peace on Earth selaras dengan ucapan bahagia Kristus tentang para pembawa damai di Matius 5:9.

Semua lagu sekuler/non-gerejawi itu membuktikan bahwa damai memang dirindu bumi. Dan peristiwa Natal menjadi suatu “gayung bersambut” bagi kerinduan itu karena Yesus Kristus telah datang untuk mendamaikan dunia dengan Allah dan akan datang kembali untuk menegakkan damai sempurna di bumi.

Di antara dua titik kedatangan itu, para peraya Natal, yakni para pengikut Kristus, tak boleh kehilangan pandang akan krisis damai di bumi. Sebaliknya, juang bagi damai di bumi harus menjadi bagian ibadah mereka dan bagian kesaksian mereka tentang Sang Raja Damai, yang adalah “damai sejahtera kita” (Ef. 2:14).

Selamat ber-Natal dan ber-Ubi.

Penjenang Kombi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: