Tinggalkan komentar

Balik ke Suara Kenabian

Salam sejahtera di bulan satu 2015, Sidang Pembaca!

Peralihan tahun adalah masa yang selalu bagus bagi perenungan: bagaimana kita sudah berkiprah di tahun lama dan bagaimana kita akan berkiprah di tahun baru. Lewat perenungan yang demikian kita dapat mendulang hikmah sebagai modal untuk menapaki hari esok dengan lebih baik. Kita bahkan dapat menemukan hal-hal lampau yang berharga, yang masih perlu kita usung/kerjakan di kekinian, tapi yang mungkin telah kita bengkalaikan.

Satu hal lampau macam itu adalah suara kenabian. Kita, sebagai bagian dari Gereja/umat Kristus, mudah meninjau bagaimana hal sepenting suara kenabian—yang kuat-kental dalam kitab nabi-nabi, yang amat besar gunanya bagi masyarakat, dan yang konon harus disampaikan Gereja—malah dilalaikan hari ini oleh banyak gereja/perkumpulan Kristen. Akibatnya sangat mengenaskan: tergembosinya fungsi “garam dunia” Gereja.

Mengingat suara kenabian bukan gagasan samar apalagi sepele dalam Alkitab, penting sekali gereja-gereja/perkumpulan-perkumpulan Kristen melancarkan suatu gerakan balik kepadanya. Dalam gerak macam itulah Komunitas Ubi (Kombi) ingin bersumbangsih dan, karenanya, di bulan perdana tahun ini mendaulat lima peladang untuk berbicara tentang suara kenabian berdasarkan kitab nabi-nabi.

Terhadap kecurangan yang terencana, sistematis, dan masif, Nabi Amos mengguruhkan suara kenabian. Ia menegur orang-orang yang “mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, … dan menjual terigu rosokan” (Am. 8:5-6). Demikianlah Gereja pun, ungkap Samsu Sempena, harus menentang praktik-praktik licik penimbul ketimpangan sosial serta membina jemaat agar paham dan bersemangat untuk menegakkan keadilan melalui profesi mereka masing-masing.

Terhadap penyalahgunaan kekuasaan, Nabi Mikha menggunturkan suara kenabian. Ia mengecam orang-orang “yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan … sebab hal itu ada dalam kekuasaannya” (Mik. 2:1). Seperti itu pulalah Gereja, ungkap Victor Samuel, harus melawan kezaliman serta memajukan keadilan bagi masyarakat dengan memanfaatkan beragam bentuk kekuasaan yang dimiliki jemaat: uang, profesi, pengaruh, posisi, kemampuan, ketenaran, jejaring, dll.

Mendapati angkara merajalela di tengah masyarakat, Nabi Habakuk mengeluh kepada Allah dan menggaungkan suara kenabian. Betapa ia jemu menyaksikan “aniaya dan kekerasan … perbantahan dan pertikaian … hukum kehilangan kekuatannya … orang fasik mengepung orang benar”! (Hab. 1:3-4). Gereja juga, ungkap Daniel Siahaan, harus bersusah hati melihat setiap kefasikan yang muncul di tengah masyarakat, mengerang di hadirat Allah, dan bersuara menolak kefasikan itu.

Terhadap rakyat, pejabat, bahkan rohaniwan yang berlaku bengkok, Nabi Zefanya menggeledekkan suara kenabian. Ia mencela mereka sebagai “pemberontak,” “cemar,” “singa yang mengaum,” “serigala pada waktu malam,” “orang-orang ceroboh dan pengkhianat,” dan orang-orang yang “menajiskan apa yang kudus, memperkosa hukum Taurat” (Zef. 3:3-4). Demikianlah Gereja pun, ungkap S.P. Tumanggor, harus menjadi penjaga dan pengingat bagi rakyat dan tokoh-tokoh masyarakat agar mereka berlaku lurus di negeri.

Terhadap penindasan atas kaum lemah, Nabi Zakharia menggelegarkan suara kenabian. Ia menuntut khalayak untuk saling menunjukkan “kesetiaan dan kasih sayang” seraya menghardik mereka yang “menindas janda dan anak yatim, orang asing, dan orang miskin”—orang-orang yang terpinggirkan dalam konteks masyarakat di zamannya (Zak. 7:9-10). Seperti itu pulalah Gereja, ungkap Bunga Siagian, harus berjuang demi melimpahnya keadilan dan kasih di tengah masyarakat serta bersungguh-sungguh menjadikan perjuangan itu misinya.

Nyatalah, Sidang Pembaca, bahwa suara kenabian memungkinkan Gereja/umat Kristus menjadi “garam” yang melawan pembusukan dan yang memberi rasa di tengah masyarakat/“dunia.” Tanpa  suara kenabian, Gereja “ompong” di dunia, bahkan ingkar terhadap tugas yang ditanggungkan Allah kepadanya. Jadi, mengingat suara kenabian telah sangat dilalaikan, sungguh baik bukan jika awal tahun yang baru ini dijadikan titik tolak untuk balik ke suara kenabian?

Selamat ber-Ubi.

Penjenang Kombi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: