Tinggalkan komentar

Memanfaatkan “Api” Kekuasaan

Oleh Victor Samuel

Untuk membentuk komponen-komponen produk, pabrik baja memanfaatkan api yang sangat panas—ribuan derajat Celcius. Api sebesar itu bermanfaat bagi keuntungan pabrik, kesejahteraan karyawan, bahkan perputaran roda ekonomi negeri. Namun, dapat dibayangkan pula bahwa api sebesar itu bisa dengan mudah menghanguskan rumah, pasar, atau gedung. Api, jika tidak bermanfaat, pasti bermudarat. Api begitu berkuasa: makin besar dia, makin besar manfaat, atau mudarat, yang dihasilkannya.

Setiap pribadi atau pranata—termasuk Gereja—juga memiliki “api” kekuasaan: segala potensi yang dapat digunakan untuk berdampak kepada orang banyak. “Api” kekuasaan ini dapat bermanfaat, yakni ketika membawa kebaikan dan keadilan, dan dapat bermudarat, ketika membawa celaka dan kezaliman. Allah berulang kali menggugat umat manusia karena memudaratkan “api” kekuasaan mereka. Gugatan Allah ini sering disampaikan melalui nabi-nabi-Nya, sehingga dikenal sebagai “suara kenabian.”

Dalam pandangan kristiani, Gereja juga berperan sebagai penyampai suara kenabian, baik kepada warga Gereja sendiri maupun kepada masyarakat luas. Guna memenuhi peran itu, Gereja harus melek Alkitab serta melek kondisinya sendiri dan kondisi masyarakat.

Sayangnya, Gereja kerap mengabaikan perannya tersebut. Banyak pengajaran Gereja hari ini bersifat terapetik, menyeorang, bahkan egois. Ibadah Gereja dirancang menjadi pelarian dari kelelahan emosi dan fisik selama seminggu berkegiatan. Kesalehan dan pengalaman rohani pribadi melulu ditekankan. Pengabaran Injil hanya menawarkan “sorga setelah mati” secara sempit. Bahkan jemaat dipancing untuk beribadah dengan iming-iming kemakmuran pribadi. Bagaimana Gereja bisa menyerukan keadilan bagi masyarakat luas jika yang dibicarakannya hanyalah “berkat” bagi diri sendiri?

Api, tanpa diawasi, dapat memicu kebakaran. Kekuasaan, tanpa diarahkan, sangat dapat bermudarat. Daya tarik duniawi dan hawa nafsu selalu menggoda manusia untuk menggunakan kekuasaannya dalam dosa, seperti kata pemeo terkenal, “Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak korup mutlak.” 1

Dalam Alkitab diceritakan bahwa, sekitar abad ke-8 M, “api” kekuasaan bani Israel sudah terlampau bermudarat. Kemantapan ekonomi dan politik memunculkan sekelompok orang kaya-durjana yang tak segan menindas orang lain demi keuntungan pribadi. Maka Allah membangkitkan Nabi Mikha untuk menyampaikan suara kenabian.

“Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan,” seru Mikha, “dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya; yang melakukannya di waktu fajar, sebab hal itu ada dalam kekuasaannya; yang apabila menginginkan ladang-ladang, mereka merampasnya, dan rumah-rumah, mereka menyerobotnya; yang menindas orang dengan rumahnya, manusia dengan milik pusakanya!” (Mik. 2:1-2).

Hari ini, kekuasaan juga masih saja di(salah)gunakan untuk “merampas” dan “menindas orang.” Dan seperti Mikha, Gereja pun harus menyerukan suara kenabian terhadap kemudaratan itu. Untuk melakukannya, Gereja perlu memanfaatkan beragam bentuk “api” kekuasaan yang dimiliki warganya: uang, profesi, pengaruh, posisi, kemampuan, ketenaran, jejaring, dll. Semua ini perlu disadari, dimatangkan, dan digunakan Gereja demi memajukan keadilan bagi masyarakat.

Ambil contoh uang, yang begitu berkuasa. Penyalahgunaannya—di dalam dan di luar Gereja—sungguh dahsyat dan mengaminkan perkataan Alkitab, “Akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1 Tim. 6:10). Sebagai pengusung suara kenabian, Gereja haruslah memakai uang demi keadilan sosial. Gereja-gereja besar bisa menggunakan milyaran rupiah untuk merayakan Natal. Namun, pertanyaannya, berapa banyakkah uang yang dipakai untuk mengadakan seminar-seminar atau gerakan-gerakan antikorupsi?

Contoh lainnya adalah profesi. Kekuasaan profesi sering diabaikan Gereja, padahal warga Gereja justru lebih banyak menggunakan waktu dan tenaga dalam profesi mereka—jauh lebih sedikit dalam kegiatan gerejani. Tambahan lagi, pihak-pihak yang “merancang kedurjanaan” biasanya “menindas orang” melalui profesi mereka (misalnya: gubernur meminta suap, pengusaha menggelapkan pajak).

Maka Gereja perlu mendorong dan memperlengkapi warganya untuk memajukan keadilan dan memangkas ketidakadilan melalui profesi masing-masing. Seminar atau kelompok misi berbasis profesi, misalnya, bisa menjadi wadah untuk menyerukan suara kenabian bagi masyarakat luas dalam berbagai lapangan kehidupan.

Ya, Gereja, sebagaimana pabrik baja, dapat dan harus menjadikan “api” kekuasaannya bermanfaat seraya menjalankan perannya sebagai penyampai suara kenabian—seperti  Mikha yang berseru, “Hai manusia, … apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil …?” (Mik. 6:8).

Catatan

1 Pemeo terkenal itu berasal dari Lord Acton (1834-1920), politisi, sejarawan, dan penulis berkebangsaan Inggris. Ia menuliskannya dalam surat kepada Uskup Agung Mandell Creighton. Lihat “Letter to Archbishop Mandell Creighton (Apr. 5, 1887)” dalam situs Hanover College History Department. <http://history.hanover.edu/courses/excerpts/165acton.html> Bunyinya dalam bahasa aslinya: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: