Tinggalkan komentar

Palang Armenia

oleh Victor Sihombing

Lebih dari 50.000 lempeng batu dengan relief palang (salib) berdiri di Armenia, negeri bergunung-gunung di kawasan Kaukasus, Eropa Timur. Terukir indah dan tidak ada yang seragam, mereka semua disebut khachkar (artinya: “palang batu”). Dicantumkan UNESCO dalam Daftar Representatif Budaya Tak-Benda Warisan Manusia,1 palang batu Armenia (selanjutnya akan disebut “Palang Armenia” saja) tegak sebagai saksi tentang mempribuminya kekristenan di Armenia secara rancak.

Bangsa Armenia mengembangkan Palang Armenia sejak abad ke-9.2 Pada lempeng batu mereka mengukir wujud palang beserta motif hias flora dan fauna khas Armenia. Secara umum keempat ujung palang itu bercabang dua seperti huruf “V.” Motif hias flora dan fauna ditambahkan di sekitarnya. Kita yang melihatnya seperti ditunjuki potret indah dari sebuah taman—dengan palang sebagai pusatnya.

Palang Armenia sangat mewarnai kehidupan bangsa Armenia, yang memeluk kekristenan sejak abad ke-4. Mereka biasa mendirikannya untuk menandai pembangunan (benteng, gereja,  jembatan, dsb.), kesepakatan (perbatasan, peraturan), kemenangan perang, kematian anggota keluarga, dan lain-lain.3 Kehidupan, dan juga kematian, diperingati di sekitar Palang Armenia.

Tugu batu memang bukan hal yang asing bagi bangsa Armenia. Sebelum kekristenan masuk ke  negeri mereka, orang Armenia biasa mendirikan vishap (artinya: “batu naga”), batu dengan ukiran ikan bersayap, di berbagai mata air. Simbol-simbol matahari dan pohon kehidupan juga bisa ditemukan pada vishap. Semua itu disakralkan orang Armenia sebagai pemberi kehidupan.4

Ketika menjadi Kristen, orang Armenia “membersihkan” vishap dari muatan agama lama dan mengalihkannya kepada kekristenan. Wujud palang mulai menggusur wujud ikan bersayap dan palang dikisahkan sebagai pohon kehidupan.5 Maka hadirlah Palang Armenia, palang pohon kehidupan yang cantik dan artistik, sebagai simbol identitas (kekristenan) bangsa Armenia.

Pengidentikan palang dengan pohon kehidupan sungguh memikat. Bukankah Kristus yang mati di kayu palang memang ibarat pohon kehidupan bagi kita? Pengorbanan-Nya memberi hidup kepada siapa pun yang percaya kepada-Nya. Menjelang akhir pelayanan-Nya di bumi, Ia berkata kepada para murid-Nya, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”(Yoh. 12:24).

Yesuslah biji gandum itu. Ia “jatuh ke dalam tanah dan mati”—atau “disalibkan, mati, dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut” menurut pengakuan iman rasuli—untuk menebus dosa manusia. Akibatnya, “setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Ia “menghasilkan banyak buah”! Itulah makna Jumat Agung: peringatan  kematian sekaligus perayaan kehidupan.

Dan buah seharusnya jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak” dan “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah” (Yoh. 15:8, 16).

“Buah” di sini adalah pekerjaan baik yang harus kita hasilkan di dunia. Sebagai murid Kristus, kita harus menggunakan kemampuan dan keahlian kita untuk mengerjakan banyak karya berguna di berbagai lingkup kehidupan: keluarga, masyarakat, bangsa, gereja, dunia. Inilah “pempribumian” iman Kristen kita. Seperti Palang Armenia, karya kita terpahat pada “lempeng batu” kehidupan.

Di Indonesia, tugu batu juga bukan hal yang asing. Sebagai contoh, di Pulau Nias kita bisa menemukan budaya pahat batu yang tak kalah hebat dari budaya serupa di Armenia. Umat Kristen Nias sebetulnya bisa saja mencipta palang batu yang artistik pula, misalnya dengan melibatkan ni’ohaluyo, motif mata tombak yang melambangkan kepahlawanan.6 Motif ini sangat cocok dengan kisahan Jumat Agung tentang kepahlawanan Kristus yang memperjuangkan keselamatan manusia tanpa menyayangkan nyawa-Nya. Kita bisa punya Palang Nias yang indah dengan nuansa yang gagah!

Ketika mata tombak menikam lambung Kristus untuk memastikan kematian-Nya, banyak orang berpikir bahwa kisah pekerjaan baik-Nya sudah selesai. Mereka salah. Pekerjaan baik itu terus dilanjutkan oleh para murid-Nya—termasuk kita di masa kini yang mantap menyatakan bersama Rasul Paulus, “Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Fil. 1:22).

Catatan

1 Lihat “Armenian cross-stones art. Symbolism and craftsmanship of Khachkars” dalam situs UNESCO. <http://www.unesco.org/culture/ich/index.php?lg=en&pg=00011&RL=00434>.

2 Hamlet Petrosyan. “The Khachkar or Cross-Stone” dalam Armenian Folk Arts, Culture, and Identity/Penyunting: Levon Abrahamian dkk. Bloomington, IN: Indiana University Press, 2001, hal. 60.

3 “Erection and Functions of Khachkar” dalam situs Khachkar: Symbol of Armenian Identity. <http://www.khachkar.am/en/khachkar_function/>.

4 “Amberd 5: St. Astvatsatsin Church (9). Khachkars. Vishaps” dalam situs Armenian. <http://www.armenianheritage.org/en/monument/Amberd/49>.

5 Hamlet Petrosyan. Armenian Folk Arts, Culture, and Identity, hal. 62, 63.

6 Lucas Partanda Koestoro dan Ketut Wiradnyana. Tradisi Megalitik di Pulau Nias. Medan: Balai Arkeologi Medan, 2007. hal. 59.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: