2 Komentar

Palang Koptik

Oleh Daniel Siahaan

“Akhirnya orang Koptik—umat Kristen awal dan keturunan orang Mesir purba—memungut lambang ankh sebagai palang kristiani mereka. Gereja Koptik menyebutnya crux ansata, palang bergagang atau ‘bermata.’ Berpaling dari kepercayaan Mesir kafir, orang Koptik menebus makna ankh. Mereka merayakan pesan yang memberi hidup dari palang kristiani, dengan Kristus sebagai sang pemberi hidup.”1

Demikian ditulis seorang profesor sejarah seni asal AS tentang palang/salib unik yang bisa disebut sebagai “Palang Koptik mula-mula.” Kata “mula-mula” ditambahkan karena Gereja Koptik masa kini, yang memasuki usia milenium ketiganya, sudah lebih sering menggunakan Palang Koptik wujud lain. Meskipun begitu, tulisan ini akan menyoroti Palang Koptik mula-mula (selanjutnya akan kita sebut “Palang Koptik” saja) dalam kaitan dengan pempribumian kekristenan dan dengan kehidupan yang diberi Kristus.

Ankh, menurut kepercayaan Mesir purba, melambangkan karunia kehidupan, berkat berupa kehidupan yang baik, dan harapan untuk kehidupan di akhirat. Dalam hieroglif (aksara Mesir purba), ankh tampil dengan wujud huruf “T” yang ditempeli huruf “O” di bagian atasnya. Di Mesir purba tidak ada lambang lain yang lebih beken daripada ankh.2

Ketika orang Mesir (Koptik) memeluk agama Kristen pada abad pertama Masehi, dengan cekatan mereka mengambil alih ankh ke dalam akidah baru mereka. Wujud ankh dijadikan dasar wujud Palang Koptik.3 Makna ankh pun “ditebus” menjadi lambang kebangkitan dari kematian serta lambang kehidupan yang diberikan Yesus Kristus4 lewat kematian-Nya di kayu palang dan kebangkitan-Nya dari alam maut—peristiwa-peristiwa yang dirayakan umat Kristen sebagai hari Jumat Agung dan Paskah.

Makna itu selaras dengan pemberitaan Alkitab: “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yoh. 4:9) dan “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya” (1 Yoh. 5:11).

Sungguh cemerlang ide pempribumian Palang Koptik! Belum lagi bentuk lingkaran Palang Koptik dapat pula dimaknai sebagai lambang kasih Allah yang kekal.5 Karena Allah mengasihi manusia, Ia mengutus “Anak-Nya yang tunggal” (gelar mulia Yesus) untuk mati bagi kita supaya kita beroleh hidup, bahkan hidup yang kekal.

Dan kita, umat Kristen, memahami bahwa “hidup oleh-Nya” berarti “mati bagi dosa,” tetapi “hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rom. 6:11). Dalam hidup ini kita tidak lagi “menyerahkan anggota-anggota tubuh [kita] kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman” tapi, sebaliknya, kita menyerahkan “anggota-anggota tubuh [kita] kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Rom. 6:13).

Ketika anggota-anggota tubuh kita menjadi senjata-senjata kebenaran, kita pun giat, aktif, bahkan agresif berbuat baik dan benar di segala bidang kehidupan sesuai dengan panggilan masing-masing: mewartakan kabar keselamatan, memberantas sakit-penyakit, mengelola sumber daya alam, menegakkan hukum, dll. Itulah makna yang terungkap dari “hidup oleh-Nya.” Itulah makna yang terungkap dari Palang Koptik.

Di Indonesia, umat Kristen mestinya bisa juga mengadakan pempribumian ala Palang Koptik. Sebagai contoh, motif burung enggang bisa saja dipadukan dengan wujud palang demi membuat suatu Palang Dayak. Burung yang melambangkan penguasa alam atas (surga) dan sumber kehidupan6 itu sangat cocok untuk melambangkan Kristus, “yang adalah hidup kita,” yang apabila Ia “menyatakan diri kelak, [kita] pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan” (Kol. 3:4).

Kristus menggapai kemuliaan setelah menjalani hidup yang berkarya baik dan berkorban di bumi. Demikian jugalah kita, para pengikut-Nya, akan meraih pahala kemuliaan setelah mengisi hidup, yang dikaruniakan Allah via Anak-Nya yang tunggal, dengan segala perbuatan baik dan benar. Itu adalah cara kita—sama seperti orang Koptik—merayakan pesan yang memberi hidup dari simbol palang, dengan Kristus sebagai sang pemberi hidup.

Catatan

1 Judith Couchman. The Mystery of The Cross: Bringing Ancient Christian Images to Life. Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2009, hal. 26-27.

2 Judith Couchman, hal 25-26.

3 The Ankh: Key of Life. San Fransisco, CA: Red Wheel Weiser, LLC, 2007, hal. 43. Bentuk Palang Koptik (mula-mula) ini bisa digambarkan sebagai huruf “T” yang ditempeli huruf “O” di atasnya dan di dalam lingkaran “O” itu ditambahkan wujud palang sama sisi (“Palang Yunani”—seperti pada simbol Palang Merah).

4 Françoise Dunand dan Christiane Zivie-Coche. Gods and Men in Egypt: 3000 BCE to 395 CE/Terjemahan bahasa Inggris oleh David Lorton. Ithaca, New York: Cornell University Press, 2004, hal. 336-337.

5 The Ankh: Key of Life, hal. 43.

6 “Kaharingan: Agama Leluhur Suku Daya” dalam situs Wacana Nusantara. <http://www.wacananusantara.org/kaharingan-agama-leluhur-suku-daya/>.

Iklan

2 comments on “Palang Koptik

  1. your article is atractive Daniel, thank you for your information about your community. reynald

  2. Terima kasih atas komentarnya, Reynald. Semoga Anda menikmati artikel-artikel dalam blog ini. Kunjungi blog ini tiap bulan untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: