Tinggalkan komentar

Berpikir Menata Tulisan

Oleh Efraim Sitinjak

Dalam sebuah wawancara, David McCullough, penulis kawakan asal AS, pernah berujar, “Menulis adalah berpikir. Menulis yang baik adalah berpikir dengan jernih. Itulah sebabnya menulis sangat sulit.”1 Saya kira ujarannya tepat sekali! Menulis yang baik tak bisa tidak melibatkan proses berpikir yang jernih, dan apa yang muncul dalam tulisan kita adalah cerminan cara berpikir kita—keruh atau jernih.

Pandangan McCullough senada dengan pandangan Komunitas Ubi (Kombi) dalam kiprah penulisannya. Di Kombi, kami selalu berupaya membuat tulisan melalui kinerja berpikir yang sejernih-jernihnya demi menyajikan ide-ide yang mencerahi pembaca. Dan setiap tulisan kami tata seapik-apiknya dalam hal pengalimatan, pembahasaan, alur, argumen, dsb. Ya, di Kombi, kami sangat mengakrabi “sulit” yang disebutkan McCullough, salah satunya dengan berpikir dalam menata tulisan. Saya dapat mengajukan beberapa contohnya.

Dalam rumpun tulisan bertema “Kenal Orisinal,” saya turut menyumbangkan tulisan yang berjudul “Filem Membumi dan Melangit.”2 Tulisan ini menyoroti keorisinalan filem-filem Barat dan hikmah yang bisa kita petik darinya. Saya berpikir dan melihat bahwa insan filem Barat, dengan berpikir orisinal, mampu menimba ide “membumi” dari kenyataan-kenyataan hidup manusia dan ide “melangit” dari khayalan.

Jadi, saya menata tulisan saya dengan mula-mula menggambarkan betapa berpengaruhnya filem-filem Barat karena pemikiran orisinal terhadap pengalaman sehari-hari dan imajinasi. Saya deretkan contoh-contoh filem Barat yang “membumi” dan “melangit,” saya komentari, lalu saya gugahkan teladan darinya bagi kinerja kita di Indonesia. Saya argumenkan soal kekhasan dan kepercayaan diri dalam berkarya dengan mengutip perkataan insan filem Nigeria yang sukses dengan karya-karya orisinalnya.

Dalam rumpun tulisan bertema “Batu Besar Indonesia,” peladang Ericko Sinuhaji menyumbangkan tulisan yang berjudul “Pesan Kekreatifan dan Bakti dari Pasemah.”3 Tulisan ini menyoroti kinerja besar di balik peninggalan megalitik di Pasemah dan hikmahnya untuk kinerja kita di masa kini. Ericko berpikir dan mendapati bahwa kekreatifan adalah modal karya besar dan bahwa karya besar harus dibaktikan kepada Sang Pencipta.

Untuk menopang gagasan itu, Ericko menata tulisannya dengan pembukaan berupa gambaran umum tentang Situs Megalitik Pasemah. Kemudian ia mengulas hikmah tentang kekreatifan dengan tunjangan data mengenai keunikan arca Pasemah yang tidak dapat ditemui di daerah manapun di Indonesia—bahkan dunia. Selanjutnya, ia mengulas hikmah tentang bakti kepada Sang Pencipta, juga dengan tunjangan data mengenai karya-karya batu di Pasemah yang mengarah ke Gunung Dempo. Ia menutup tulisannya dengan imbauan agar generasi kini pun membuat megakarya kekreatifan dan bakti yang mampu bertahan menembus abad-abad.

Penataan-penataan itu tentu tidak semudah yang terbaca di atas. Ada “pergulatan” dalam memikirkan segalanya, dan ada proses penyuntingan yang “mendesak” kami membuat penataan yang seapik mungkin. Kami harus memikirkan kalimat yang efektif, pembahasaan yang tepat, alur yang lancar, dan argumen yang masuk akal.

“Sulit”-nya menulis membuat saya celik terhadap dua pelajaran berharga seputar tulisan bagus. Pertama, tulisan bagus tak dapat tidak lahir dari penataan terpadu segenap unsurnya: kalimat, argumen,  alur, dsb. Penataan yang bagus tak dapat tidak lahir dari proses berpikir yang jernih.

Kedua, tulisan yang tertata apik berfaedah besar bagi penulisnya dan pembacanya. Penulis beroleh manfaat karena proses penataan tulisan mengasah kemampuannya untuk berpikir sejernih-jernihnya. Pembaca beroleh hikmat dan nikmat karena membaca tulisan yang tertata rapi. Dan tentu saja pembaca pun dapat mengasah kemampuan berpikir jernih dengan menelaah tulisan itu.

Kinerja menulis seperti itu sangat layak dikuasai bangsa Indonesia. Dengannya kita bisa menggubah dan memasarkan tulisan-tulisan bagus tentang berbagai hal. Negeri dan dunia bisa diberkati olehnya, seiring kualitas kecendekiaan bangsa meningkat.

Kinerja menulis seperti itu kiranya selalu menjadi ciri Kombi. Dalam memasuki kiprahnya di tahun kelima, saya berharap Kombi tetap menggiatkan proses berpikir yang jernih dan tetap suka menekuni serta menaklukkan “sulit”-nya menulis itu. Semua untuk Tuhan dan untuk bangsa!

Catatan

1 “David McCullough Interview” dalam situs National Endowment for The Humanities. <http://www.neh.gov/about/awards/jefferson-lecture/david-mccullough-interview>.

2 Efraim Sitinjak. “Filem Membumi dan Melangit” dalam blog Komunitas Ubi. <https://komunitasubi.wordpress.com/2015/02/17/filem-membumi-dan-melangit>.

3 Ericko Sinuhaji. “Pesan Kekreatifan dan Bakti dari Pasemah” dalam blog Komunitas Ubi. <https://komunitasubi.wordpress.com/2015/03/17/pesan-kekreatifan-dan-bakti-dari-pasemah>.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: